CES 2026: Era Mobil Tanpa Sopir Resmi Dimulai, Teknologi Self-Driving Kian Matang

CES 2026 Era Mobil Tanpa Sopir Resmi Dimulai, Teknologi Self-Driving Kian Matang

BERITA KERABAT – Selama bertahun-tahun, teknologi self-driving terjebak dalam fase prototipe dan uji coba terbatas. Namun, di CES 2026, para raksasa teknologi seperti NVIDIA, Qualcomm, serta produsen otomotif global seperti Mercedes-Benz, BMW, dan Sony Honda Mobility menunjukkan bahwa perangkat lunak dan infrastruktur AI telah mencapai titik balik krusial.

Salah satu sorotan utama adalah pergeseran dari Advanced Driver Assistance Systems (ADAS) standar menuju Level 4 Autonomous Driving. Teknologi ini memungkinkan mobil untuk mengemudi sepenuhnya di wilayah geografis tertentu tanpa pengawasan pengemudi.

Dominasi Robotaxi di Jalanan Las Vegas

Tahun ini, Las Vegas benar-benar menjadi laboratorium hidup. Perusahaan seperti Zoox (milik Amazon) dan Waymo mendominasi jalanan Strip dengan armada robotaxi mereka yang beroperasi 24 jam. Di panggung CES, Zoox memamerkan bagaimana kendaraan otonom mereka kini mampu menangani skenario perkotaan yang sangat kompleks seperti hujan lebat dan kabut dengan akurasi yang lebih baik daripada pengemudi manusia.

Layanan ini bukan lagi sekadar eksperimen. Integrasi dengan sistem manajemen kota pintar (Smart City) memungkinkan robotaxi ini memprediksi kemacetan dan mengatur rute secara efisien, mengurangi waktu tempuh hingga 20% dibandingkan transportasi konvensional.

NVIDIA Alpamayo: Otak di Balik Kendaraan Pintar

NVIDIA kembali mengukuhkan posisinya sebagai tulang punggung revolusi ini. CEO Jensen Huang memperkenalkan keluarga model AI bernama Alpamayo. Ini adalah sistem AI “berpikir dan bernalar” pertama di dunia untuk kendaraan otonom. Berbeda dengan AI sebelumnya yang hanya bereaksi berdasarkan pola, Alpamayo mampu melakukan penalaran logis saat menghadapi situasi tak terduga di jalan.

Teknologi ini telah diadopsi oleh Mercedes-Benz pada model CLA terbaru mereka, yang menjalankan sistem operasi MB.OS bertenaga AI. Hal ini memungkinkan kendaraan tidak hanya menyetir sendiri, tetapi juga menjadi asisten pribadi yang memahami konteks emosi dan kebutuhan penumpang di dalam kabin.

Startup Tensor: Mobil Otonom Pribadi Pertama

Jika selama ini teknologi otonom identik dengan armada taksi, startup Silicon Valley bernama Tensor membuat kejutan dengan meluncurkan “Personal Robocar” pertama di dunia untuk kepemilikan pribadi. Kendaraan ini dilengkapi dengan kemudi yang bisa dilipat sepenuhnya ke dalam dasbor saat mode otonom diaktifkan, mengubah interior mobil menjadi ruang tamu atau kantor berjalan.

Mobil ini dibekali dengan 37 kamera dan 5 sensor LiDAR resolusi tinggi yang memberikan penglihatan 360 derajat tanpa blind spot. Tensor menargetkan produksi massal pada akhir 2026 dengan fokus awal pada pasar Amerika Serikat dan Uni Eropa.

Transformasi Interior: Dari Kabin ke Third Space

Karena pengemudi tidak lagi perlu memegang kemudi, fokus inovasi di CES 2026 beralih ke pengalaman interior. Kendaraan kini dipandang sebagai “Third Space” tempat ketiga setelah rumah dan kantor.

  • LG Mobility Display Solution: LG memamerkan teknologi yang mengubah kaca depan mobil menjadi layar transparan raksasa. Saat mobil dalam mode self-driving, penumpang dapat menonton film, melakukan rapat video, atau melihat informasi augmented reality (AR) tentang tempat-tempat yang dilewati.
  • AI Cockpit dari Bosch: Bekerja sama dengan Microsoft, Bosch menghadirkan kokpit berbasis AI yang dapat mendeteksi tingkat kelelahan atau gangguan kesehatan penumpang melalui sensor biometrik, dan secara otomatis menyesuaikan suhu serta pencahayaan kabin.

Tantangan dan Masa Depan Driver Online

Meskipun teknologi ini membawa kemudahan, matangnya teknologi self-driving juga membawa peringatan bagi sektor tenaga kerja. Analisis dari panggung CES 2026 menyebutkan bahwa “kiamat” bagi pengemudi transportasi online kian dekat. Dengan biaya operasional robotaxi yang lebih murah dan tingkat keamanan yang lebih tinggi (minim kesalahan manusia), banyak perusahaan logistik dan transportasi mulai beralih sepenuhnya ke sistem otonom.

Namun, para pakar menekankan bahwa regulasi tetap menjadi kunci. Pemerintah di berbagai negara kini tengah berpacu untuk menyusun aturan mengenai tanggung jawab hukum jika terjadi kecelakaan yang melibatkan kendaraan tanpa sopir.