BERITA KERABAT – Bencana banjir yang menimpa Kabupaten Tangerang terus mengalami eskalasi dalam beberapa hari terakhir. Berdasarkan data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Tangerang, banjir kini telah meluas ke tujuh kecamatan, dengan jumlah warga terdampak mencapai sekitar 14.000 Kepala Keluarga (KK). Kondisi ini memperlihatkan seriusnya situasi kemanusiaan yang sedang berlangsung di wilayah tersebut akibat cuaca ekstrem dan luapan sungai yang tidak kunjung surut.
Kronologi dan Perkembangan Banjir
Banjir pertama kali melanda sebagian wilayah Kabupaten Tangerang pada Minggu, 11 Januari 2026, seiring dengan intensitas hujan yang sangat tinggi. Hujan ekstrem ini menyebabkan beberapa aliran sungai, danau, serta anak-anak sungai meluap, merendam permukiman warga yang berada di dataran rendah. Hingga Sabtu, 24 Januari 2026, banjir telah menyebar ke tujuh kecamatan yang berbeda.
Menurut Kepala BPBD Kabupaten Tangerang, Ahmad Taufik, area yang masih terdampak meliputi Kecamatan Gunung Kaler, Kresek, Pasar Pemis, Solear, Cisoka, Jayanti, dan Balaraja. Di sejumlah titik, banjir masih berada dalam kondisi cukup tinggi, dengan ketinggian air berkisar antara 60 cm hingga lebih dari 2 meter.
Wilayah Gunung Kaler, Kresek, dan Jayanti menjadi kawasan yang paling parah terdampak, di mana air banjir menyentuh ketinggian hampir 2 meter di beberapa lokasi. Luapan air yang sedemikian tinggi tidak hanya merendam rumah-rumah warga, tetapi juga membuat banyak aktivitas masyarakat lumpuh total, karena akses jalan dan fasilitas umum terendam.
Dampak Terhadap Warga
Dampak banjir ini sangat luas. Sekitar 14.000 KK atau puluhan ribu jiwa kini mengalami gangguan besar dalam kehidupan sehari-hari mereka. Dari jumlah tersebut, sebagian besar warga memilih bertahan di rumah masing-masing meskipun air sudah mencapai ketinggian yang membahayakan, sementara sekitar dua persen dari total keluarga terdampak mengungsi ke tempat yang lebih aman, termasuk posko evakuasi darurat yang disiapkan oleh pemerintah daerah.
Banjir juga mengakibatkan sejumlah fasilitas sosial menjadi tidak berfungsi. Sekolah-sekolah, jalan umum, dan fasilitas kesehatan ikut terendam. Bagi warga lansia dan keluarga dengan anak kecil, kondisi ini sangat menggugah rasa prihatin, karena mereka harus menghadapi kesulitan mendapatkan kebutuhan dasar seperti makanan, air bersih, dan akses listrik. Banyak warga yang kini terisolasi di lantai dua rumah mereka atau berusaha mencari lokasi lebih tinggi bersama keluarga.
Upaya Pemerintah dan Penanganan Darurat
Pemerintah Kabupaten Tangerang bersama BPBD telah dikerahkan untuk melakukan langkah-langkah penanganan darurat. Personel BPBD dibantu unsur TNI-Polri, relawan, dan organisasi kemanusiaan lainnya bekerja siang-malam menanggulangi dampak banjir. Beberapa langkah yang diambil antara lain:
- Distribusi logistik berupa makanan, air minum, selimut, serta kebutuhan darurat lainnya kepada warga yang terisolasi.
- Pengoperasian mesin pompa air dan penyedot air untuk mempercepat proses penyusutan air di permukiman warga yang padat.
- Penyiapan posko evakuasi di lokasi yang lebih aman untuk warga yang memilih mengungsi jauh dari zona banjir.
- Patroli siaga di beberapa titik rawan banjir untuk mengantisipasi kemungkinan adanya lonjakan debit air susulan.
Meskipun demikian, tantangan terbesar saat ini adalah prakiraan cuaca yang masih belum stabil dan berpotensi hujan ekstrem kembali. Cuaca yang tidak menentu menjadi kendala utama bagi upaya penanganan dan pemulihan banjir secara cepat. Pihak BPBD menyatakan mereka terus memantau kondisi setiap saat dan mengimbau warga untuk tetap waspada.
Suara Warga di Lapangan
Banyak warga yang tinggal di kawasan terdampak menyatakan kekhawatiran atas kondisi rumah mereka. Sebagian besar merasa bahwa intensitas hujan kali ini jauh lebih tinggi dibanding banjir-banjir sebelumnya yang pernah terjadi di Tangerang. Mereka berharap pemerintah bisa segera menyelesaikan masalah banjir secara lebih sistematis dan memberikan bantuan yang lebih besar, terutama bagi mereka yang kehilangan aset atau terpaksa mengungsi.
Seorang warga yang enggan disebutkan namanya berkata bahwa air yang mencapai hampir dua meter sangat sulit dihadapi. Banyak keluarga yang bahkan tidak bisa menyelamatkan barang-barang berharga mereka karena banjir datang dengan cepat dan terus naik. Ia berharap agar adanya perbaikan infrastruktur penanganan banjir di masa mendatang, termasuk normalisasi sungai, pembangunan saluran air yang lebih baik, serta sistem peringatan dini yang lebih efektif.
Ancaman Banjir Susulan dan Mitigasi
Cuaca ekstrem yang berpeluang kembali muncul dalam beberapa hari ke depan menjadi ancaman serius bagi wilayah Tangerang. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) secara berkala memberikan peringatan akan potensi hujan dengan intensitas tinggi di kawasan Banten dan sekitarnya, yang dapat memperparah kondisi banjir. Hal ini tentu membutuhkan kesiapsiagaan dari semua pihak pemerintah, relawan, dan masyarakat dalam menghadapi kemungkinan banjir susulan.
Banjir di Kabupaten Tangerang adalah salah satu contoh dari dampak nyata perubahan pola cuaca ekstrem yang terjadi belakangan ini. Pemerintah dan lembaga terkait terus berupaya melakukan mitigasi, tetapi tantangan besar tetap ada dan membutuhkan dukungan lebih luas dari berbagai sektor.
