Rupiah Tiba-tiba Menguat Tajam, Benarkah Sesuai Klaim Purbaya?

Rupiah Tiba-tiba Menguat Tajam, Benarkah Sesuai Klaim Purbaya

BERITA KERABAT – Pada perdagangan terbaru, nilai tukar rupiah menunjukkan penguatan signifikan terhadap dolar Amerika Serikat setelah mengalami periode tekanan dalam beberapa minggu terakhir. Rupiah perlahan masuk ke tren penguatan, memicu perhatian pelaku pasar dan publik yang sebelumnya terfokus pada posisi terlemah kurs domestik di kisaran Rp16.900–Rp17.000 per dolar AS.

Sentimen positif ini tidak hanya terlihat pada kurs, tetapi juga tercermin pada penguatan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dan meningkatnya minat terhadap obligasi pemerintah, menunjukkan aderesi kelas aset domestik yang lebih luas.

Isu yang paling hangat adalah: benarkah pernyataan Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa terkait penguatan rupiah itu tepat? Atau justru ini hanya respons sementara pasar? Kita bahas lebih dalam.

Pernyataan Purbaya: Apa yang Ia Katakan?

Menteri Keuangan **Purbaya Yudhi Sadewa secara eksplisit menyatakan keyakinannya bahwa rupiah akan terus menguat, meskipun ia tak memiliki mandat langsung untuk mengendalikan kurs yang merupakan wewenang Bank Indonesia (BI).

Menurut Purbaya, ia mengetahui faktor-faktor penyebab tekanan terhadap rupiah sebelumnya dan yakin proses perbaikan terhadap volatilitas bisa terjadi hanya dalam waktu singkat bahkan ia menyebut humoris bahwa seharusnya hanya diperlukan “dua hari, dua malam” untuk memulihkannya, jika berada di bawah kendali yang tepat.

Namun penting dicatat bahwa pernyataan tersebut tidak serta-merta berarti Purbaya punya wewenang langsung untuk mengatur kurs seperti bank sentral. Ia pun menyarankan pertanyaan soal pergerakan kurs langsung kepada Bank Indonesia.

Data Pergerakan Kurs: Fakta di Pasar

Berbagai laporan pasar menunjukkan bahwa rupiah memang menguat dalam beberapa sesi terakhir:

  • Pada perdagangan terakhir, kurs bergerak menguat dari kisaran Rp16.820 menjadi sekitar Rp16.768–Rp16.770 per dolar AS.
  • Penguatan ini dipengaruhi oleh sejumlah faktor eksternal dan domestik, termasuk sentimen global terhadap dolar AS serta intervensi kebijakan stabilisasi BI.

Ini berarti rupiah tidak lagi terus-menerus melemah, tetapi memasuki fase di mana tekanan jual mereda sementara capital inflow dan sentimen risiko pasar membaik.

Analisis Penyebab Penguatan Rupiah

Sentimen Global dan Dolar AS

Perubahan ekspektasi kebijakan moneter AS mempengaruhi tekanan kurs. Ketika data ekonomi AS menunjukkan kinerja kurang mendukung ekspektasi kenaikan suku bunga, indeks dolar AS melemah dan memberikan ruang bagi mata uang negara berkembang seperti rupiah untuk menguat.

Selain itu, ekspektasi penurunan suku bunga The Fed di masa depan juga pernah menjadi faktor yang mendukung penguatan mata uang Asia secara umum.

Kebijakan Bank Indonesia (BI)

Walaupun Purbaya bicara soal kurs, Bank Indonesia tetap menjadi otoritas utama penentu arah, termasuk lewat operasi pasar spot, NDF, DNDF, dan pembelian SBN yang memberi dukungan stabilitas kurs.

BI juga menyatakan komitmennya menjaga nilai tukar agar tetap terkendali dan stabil, sebuah posisi yang diperkuat melalui kebijakan stabilisasi dan optimasi instrumen moneter.

Fundamental Ekonomi Domestik

Fundamental makro Indonesia juga cukup solid: pertumbuhan ekonomi yang stabil, cadangan devisa yang memadai, dan aliran modal masuk ke pasar saham serta obligasi menjadi pilar kuat bagi nilai tukar.

Benarkah Penguatan Ini “Tiba-Tiba”?

Penguatan rupiah bukan sepenuhnya tiba-tiba tanpa dasar. Ini merupakan respons pasar terhadap kombinasi faktor global dan domestik:

  • Pelemahan dolar AS terhadap mata uang lain.
  • Perbaikan sentimen investor.
  • Kebijakan stabilisasi BI yang efektif.
  • Aliran masuk modal asing ke pasar modal dan obligasi.

Pernyataan Purbaya tentang keyakinannya rupiah akan menguat memang mendekati kenyataan, tetapi bukan karena ia punya kendali langsung atas kurs, melainkan karena kombinasi sentimen pasar dan kebijakan yang saling bersinergi.

Risiko yang Perlu Diwaspadai

Walaupun tren menguat ini positif, ada beberapa risiko yang tetap perlu diwaspadai:

  • Ketidakpastian kebijakan moneter global, terutama arah suku bunga The Fed.
  • Pergerakan modal yang cepat masuk atau keluar pasar keuangan.
  • Sensitifnya rupiah terhadap perubahan sentimen investor.

Beberapa analis juga pernah memperingatkan bahwa jika arus modal portofolio negatif, kurs bisa kembali tertekan bahkan sempat berujung pada level psikologis mendekati Rp17.000 per dolar AS.