BERITA KERABAT – Teka-teki mengenai masa depan Jakarta International Stadium (JIS) sebagai markas permanen Persija Jakarta akhirnya menemui titik terang. Menghadapi tantangan besar dalam menjaga kualitas rumput di tengah padatnya agenda non-olahraga, manajemen JIS memutuskan untuk mengadopsi strategi sukses dari Singapore National Stadium. Langkah ini melibatkan pembangunan fasilitas pembibitan rumput atau nursery mandiri yang diistilahkan sebagai “kebun” rumput cadangan.
Meniru Formula Sukses Singapura
Persoalan rumput JIS memang kerap menjadi sorotan, terutama setelah stadion ini digunakan untuk ajang konser musik berskala besar. Dampaknya, Persija sering kali harus terusir dan menjadi tim “musafir” karena kondisi lapangan yang butuh waktu lama untuk pulih.
Belajar dari pengalaman tersebut, manajemen PT Jakarta Propertindo (Jakpro) melalui unit bisnisnya, Strategic Business Unit (SBU) JIS, kini berkaca pada pengelolaan stadion di Singapura. Singapore National Stadium dikenal memiliki sistem nursery yang sangat efisien, yang memungkinkan mereka mengganti permukaan lapangan dalam hitungan hari.
“Kami berencana membangun beberapa nursery seperti yang diterapkan di National Stadium Singapura. Mereka memiliki empat nursery seukuran lapangan sepak bola utama,” ujar Shinta Syamsul Arief, GM SBU JIS, dalam keterangannya di Jakarta (29/12/2025).
Strategi Kebun Rumput: Solusi Lima Hari
Keberadaan fasilitas pembibitan ini bukan sekadar area penghijauan. Ini adalah unit produksi rumput hybrid yang siap dipindahkan kapan saja. Dengan memiliki persediaan rumput yang tumbuh di luar stadion, pengelola dapat langsung mencopot rumput yang rusak setelah konser dan menggantinya dengan “karpet” rumput segar dari nursery.
Target yang dipatok pun tidak main-main. Jika sebelumnya pemulihan rumput pasca-konser membutuhkan waktu berminggu-minggu, dengan sistem baru ini, JIS ditargetkan siap menggelar laga sepak bola hanya dalam lima hari setelah acara hiburan selesai. Hal ini sangat krusial mengingat jadwal Liga 1 sering kali sangat padat.
Demi Persija dan Jakmania
Langkah ambisius ini diambil sebagai bentuk komitmen menjadikan JIS sebagai rumah sejati bagi Macan Kemayoran. Selama ini, manajemen menghadapi dilema antara mengejar kemandirian finansial melalui sewa konser dan kewajiban menyediakan fasilitas olahraga standar FIFA bagi klub kebanggaan Jakarta.
“Ini juga untuk memenuhi harapan Jakmania yang sudah lama mendambakan klub kesayangan mereka memiliki kandang yang permanen, megah, dan membanggakan,” tambah Shinta.
Sepanjang tahun 2025, Persija tercatat beberapa kali harus mengungsi ke stadion lain, seperti Stadion Utama Gelora Bung Karno (SUGBK) atau bahkan keluar kota, karena kualitas rumput JIS yang menurun drastis setelah digunakan oleh musisi mancanegara. Dengan adanya “kebun” rumput sendiri, risiko Persija terusir diharapkan bisa ditekan hingga nol persen.
Keunggulan Teknologi Rumput Hybrid
JIS sendiri menggunakan teknologi rumput hybrid dengan komposisi 95% rumput alami (Zoysia Matrella) dan 5% serat sintetis. Keunggulan sistem nursery untuk rumput jenis ini adalah:
- Ketahanan: Rumput yang sudah “matang” di lokasi pembibitan memiliki akar yang lebih kuat sebelum dipasang di lapangan utama.
- Kecepatan Transisi: Memungkinkan stadion beralih fungsi dari mode konser ke mode pertandingan bola dengan sangat cepat.
- Standar Internasional: Menjamin kualitas permukaan lapangan tetap rata dan empuk, mengurangi risiko cedera pemain.
Menuju Stadion Mandiri dan Berkelas Dunia
Selain urusan rumput, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta juga terus menggenjot aksesibilitas menuju stadion, termasuk pengoperasian Stasiun JIS dan penambahan rute TransJakarta khusus pendukung Persija. Pengelola yakin bahwa dengan perbaikan manajemen rumput ini, JIS akan mencapai titik keseimbangan ideal: tetap produktif sebagai pusat hiburan namun tetap suci sebagai arena sepak bola.
Upaya “mencontek” teknologi Singapura ini menandai babak baru bagi infrastruktur olahraga di Indonesia, di mana pemeliharaan menjadi prioritas yang setara dengan pembangunan fisik bangunan yang megah.
