BERITA KERABAT – Dinamika kekayaan para konglomerat di Indonesia mengalami pergeseran signifikan pada pembukaan tahun 2026. Berdasarkan data Real-Time Billionaires yang dirilis oleh Forbes dan Bloomberg awal Januari ini, komposisi sepuluh besar orang terkaya di Indonesia kedatangan wajah-wajah yang menunjukkan dominasi baru di sektor teknologi pusat data (data center) dan manufaktur bahan bangunan.
Jika selama bertahun-tahun daftar ini didominasi oleh pemain lama dari sektor perbankan, rokok, dan batu bara, kini sektor infrastruktur digital mulai menunjukkan tajinya. Fenomena ini sekaligus menandai transformasi ekonomi Indonesia yang kian dalam masuk ke ranah digital dan industrialisasi hilir.
Siapa Saja Tiga Nama Baru Tersebut?
Masuknya nama-nama baru ini menggeser beberapa tokoh senior yang sebelumnya mapan di posisi 10 besar, seperti Chairul Tanjung (CT Corp) dan Djoko Susanto (Alfamart), yang kini berada di luar lingkaran sepuluh besar. Berikut adalah tiga nama yang berhasil menembus jajaran elit tersebut:
1. Otto Toto Sugiri (DCI Indonesia)
Dikenal sebagai “Bill Gates-nya Indonesia”, Otto Toto Sugiri akhirnya mengukuhkan posisinya di peringkat ke-7. Kekayaannya melonjak tajam seiring dengan meroketnya valuasi saham PT DCI Indonesia Tbk (DCII). Sebagai pionir pusat data Tier IV di Indonesia, Otto mendapatkan durian runtuh dari kebutuhan cloud computing dan AI yang meledak di tanah air. Per Januari 2026, kekayaannya ditaksir mencapai US$ 8,7 miliar (sekitar Rp143,5 triliun).
2. Marina Budiman (DCI Indonesia)
Rekan bisnis setia Otto Toto Sugiri, Marina Budiman, mencatatkan sejarah sebagai salah satu wanita terkaya di Indonesia yang masuk ke daftar 10 besar di posisi ke-9. Sebagai salah satu pendiri dan Presiden Komisaris DCI Indonesia, Marina memiliki kekayaan bersih sebesar US$ 6,2 miliar (sekitar Rp102 triliun). Kehadirannya memberikan warna baru dalam daftar yang selama ini didominasi oleh kaum pria.
3. Haryanto Tjiptodihardjo (Impack Pratama Industri)
Kejutan terbesar datang dari Haryanto Tjiptodihardjo, Direktur Utama PT Impack Pratama Industri Tbk (IMPC). Namanya melesat ke posisi ke-6 setelah performa saham perusahaannya di sektor bahan bangunan dan properti industri mencatatkan pertumbuhan luar biasa sepanjang 2025. Dengan kekayaan mencapai US$ 8,9 miliar (sekitar Rp146,8 triliun), ia berhasil menyalip beberapa nama besar di industri manufaktur tradisional.
Daftar Lengkap 10 Orang Terkaya RI (Januari 2026)
Berikut adalah tabel rincian kekayaan 10 besar konglomerat Indonesia saat ini:
| Peringkat | Nama Tokoh | Kekayaan (Estimasi Rp) | Perusahaan Utama |
| 1 | Prajogo Pangestu | Rp643,5 Triliun | Barito Pacific, Chandra Asri |
| 2 | Low Tuck Kwong | Rp367,9 Triliun | Bayan Resources (Batu Bara) |
| 3 | R. Budi Hartono | Rp356,4 Triliun | BCA, Djarum Group |
| 4 | Michael Hartono | Rp343,2 Triliun | BCA, Djarum Group |
| 5 | Dato’ Sri Tahir | Rp178,2 Triliun | Mayapada Group |
| 6 | Haryanto Tjiptodihardjo | Rp146,8 Triliun | Impack Pratama Industri |
| 7 | Otto Toto Sugiri | Rp143,5 Triliun | DCI Indonesia |
| 8 | Sri Prakash Lohia | Rp132,0 Triliun | Indorama Corporation |
| 9 | Marina Budiman | Rp102,3 Triliun | DCI Indonesia |
| 10 | Hermanto Tanoko | Rp92,4 Triliun | Tancorp, Avia Avian |
Analisis: Mengapa Terjadi Pergeseran?
Pengamat ekonomi menilai ada dua faktor utama yang memicu perubahan peta kekayaan ini. Pertama, reli harga saham di sektor teknologi pusat data. Transformasi digital nasional yang didorong oleh pemerintah membuat perusahaan seperti DCI Indonesia menjadi tulang punggung infrastruktur data nasional.
Kedua, diversifikasi aset. Prajogo Pangestu, yang tetap kokoh di posisi pertama, merupakan contoh nyata bagaimana transisi dari sektor energi fosil ke energi terbarukan dan petrokimia mampu melipatgandakan kekayaan dalam waktu singkat. Kekayaan Prajogo yang mencapai $39$ miliar dolar AS hampir dua kali lipat dari pesaing terdekatnya, Low Tuck Kwong.
Di sisi lain, keluarga Hartono yang selama puluhan tahun tak tergoyahkan di posisi puncak, kini harus puas berada di peringkat ke-3 dan ke-4. Meski aset mereka di Bank BCA tetap tumbuh stabil, kapitalisasi pasar perusahaan-perusahaan di sektor energi dan teknologi tumbuh jauh lebih agresif di bursa saham sepanjang tahun lalu.
