BERITA KERABAT – Pemeriksaan anak oleh Dokter di puskesmas darurat di Laklak, Kecamatan Ketambe, Kabupaten Aceh Tenggara, Aceh, 3 Desember 2026. Kementerian Pekerjaan Umum membangun puskesmas darurat di Ketambe guna memulihkan layanan kesehatan bagi masyarakat penyintas bencana di Kabupaten Aceh Tenggara. Antara/Raisan Al Farisi. Puskesmas darurat di Laklak, Kecamatan Ketambe, Kabupaten Aceh Tenggara, Aceh, 3 Desember 2026. Antara/Raisan Al Farisi.
Kabupaten Aceh Tenggara merupakan wilayah yang secara geografis rawan terhadap bencana alam, terutama banjir bandang dan tanah longsor. Dalam situasi pascabencana atau ketika fasilitas kesehatan utama mengalami kerusakan, peran Puskesmas Darurat menjadi garda terdepan dalam menyelamatkan nyawa dan menjaga stabilitas kesehatan masyarakat. Meski beroperasi dengan fasilitas yang terbatas, semangat pelayanan di Puskesmas Darurat Aceh Tenggara tetap menjadi tumpuan harapan bagi warga.
Respons Cepat Dan Penanganan Medis
Pelayanan di Puskesmas Darurat biasanya diaktifkan segera setelah status tanggap darurat ditetapkan. Fokus utamanya adalah memberikan pelayanan medis dasar dan penanganan trauma bagi korban bencana. Di Aceh Tenggara, Puskesmas Darurat seringkali didirikan menggunakan tenda-tenda medis khusus atau memanfaatkan bangunan umum yang masih layak pakai.
Tim medis yang bertugas terdiri dari dokter, perawat, dan bidan yang bekerja dalam sistem sif selama 24 jam. Layanan yang diberikan mencakup.
- Pertolongan Pertama: Menangani luka-luka ringan hingga sedang akibat reruntuhan atau arus banjir.
- Pengobatan Penyakit Umum: Menangani keluhan yang muncul di pengungsian seperti ISPA, diare, dan penyakit kulit.
- Kesehatan Ibu dan Anak: Memastikan ibu hamil dan balita tetap mendapatkan akses pemeriksaan serta imunisasi dasar meskipun dalam kondisi darurat.
Tantangan Logistik Dan Infrastruktur
Mengoperasikan puskesmas dalam kondisi darurat di Aceh Tenggara bukanlah perkara mudah. Tantangan utama yang sering dihadapi adalah aksesibilitas. Jalan yang terputus akibat longsor seringkali menghambat distribusi obat-obatan dan alat kesehatan. Selain itu, keterbatasan air bersih dan listrik menjadi hambatan teknis yang harus segera diatasi dengan koordinasi bersama dinas terkait.
Namun, keterbatasan ini biasanya disiasati dengan penggunaan unit Puskesmas Keliling (Pusling). Kendaraan operasional ini dimaksimalkan untuk menjangkau desa-desa terpencil yang tidak bisa mengakses lokasi Puskesmas Darurat secara langsung.
Pendekatan Psikososial Dan Sanitasi
Selain pengobatan fisik, Puskesmas Darurat di Aceh Tenggara juga mulai mengintegrasikan layanan dukungan psikososial. Bencana seringkali meninggalkan trauma mendalam bagi anak-anak dan lansia. Petugas kesehatan bekerja sama dengan relawan untuk memberikan trauma healing guna memulihkan kondisi mental penyintas.
Di sisi lain, petugas sanitasi (sanitarian) dari puskesmas memiliki peran krusial dalam memantau kebersihan lingkungan di sekitar posko kesehatan dan pengungsian. Mereka memastikan pembuangan limbah medis dilakukan dengan aman agar tidak menimbulkan wabah penyakit baru di tengah situasi yang sudah sulit.
Sinergi Dan Harapan
Keberhasilan pelayanan kesehatan di masa darurat sangat bergantung pada sinergi antara Pemerintah Kabupaten Aceh Tenggara, Dinas Kesehatan, dan masyarakat setempat. Solidaritas warga yang saling membantu memudahkan petugas medis dalam melakukan pendataan dan distribusi bantuan kesehatan secara merata.
Puskesmas Darurat bukan sekadar tempat pengobatan sementara; ia adalah simbol kehadiran negara dan rasa kemanusiaan di tengah kemelut bencana. Ke depannya, penguatan kapasitas logistik dan pelatihan manajemen bencana bagi tenaga kesehatan di Aceh Tenggara menjadi kunci agar pelayanan tetap prima meski dalam kondisi paling kritis sekalipun.
