Berita Kerabat – Dunia internasional baru-baru ini dikejutkan oleh laporan yang menyebutkan bahwa Pemimpin Tertinggi Taliban, Hibatullah Akhundzada, dikabarkan tewas dalam serangkaian serangan udara besar-besaran yang dilancarkan oleh militer Pakistan pada akhir Februari 2026. Kabar ini muncul di tengah eskalasi konflik yang meningkat menjadi “perang terbuka” antara dua negara tetangga tersebut, memicu spekulasi luas mengenai masa depan kepemimpinan di Kabul.
Gejolak Di Tengah Perang Terbuka Pakistan-Afghanistan
Informasi mengenai tewasnya Akhundzada pertama kali mencuat pada Jumat, 27 Februari 2026. Menurut laporan dari lembaga think-tank intelijen internasional OSINT Europe, serangan udara Pakistan menargetkan markas komando utama di Kabul dan beberapa lokasi strategis di Kandahar. Jet tempur Pakistan dilaporkan membombardir wilayah tersebut sebagai respons atas serangan lintas batas yang dilakukan oleh pasukan Taliban sebelumnya.
Kandahar, yang merupakan pusat spiritual dan basis kekuatan Akhundzada, menjadi salah satu titik fokus serangan. Laporan tersebut mengeklaim bahwa sang pemimpin tertinggi tewas bersama beberapa komandan senior Taliban. Meski demikian, hingga saat ini, pemerintah Emirat Islam Afghanistan (Taliban) belum memberikan konfirmasi resmi. Juru bicara Taliban, Zabihullah Mujahid, justru membantah klaim tersebut dan menyebutnya sebagai “propaganda hitam” yang bertujuan untuk merusak moral pejuang mereka.
Sosok Misterius Di Balik Cadar Kepemimpinan
Hibatullah Akhundzada adalah sosok yang sangat tertutup. Sejak memimpin Taliban pada tahun 2016 menggantikan Mullah Akhtar Mansour, ia jarang sekali tampil di depan publik. Keberadaannya yang misterius sering kali memicu rumor kematian di masa lalu, namun setiap kali pula Taliban berhasil membuktikannya salah melalui rekaman audio atau pesan tertulis.
Jika kabar kematian kali ini benar, hal ini akan menjadi pukulan telak bagi struktur kekuasaan Taliban. Akhundzada bukan sekadar pemimpin politik, melainkan otoritas keagamaan tertinggi (Amir al-Mu’minin) yang menyatukan berbagai faksi di dalam internal Taliban. Kematiannya berpotensi memicu perebutan kekuasaan antara faksi moderat di Kabul dan faksi garis keras di Kandahar.
Dampak Eskalasi Militer Pakistan-Afghanistan
Hubungan antara Islamabad dan Kabul telah mencapai titik nadir. Pakistan menuduh Taliban melindungi kelompok militan Tehrik-i-Taliban Pakistan (TTP) yang sering melancarkan serangan teror di wilayah Pakistan. Serangan udara pada Februari 2026 ini merupakan operasi militer paling agresif Pakistan ke wilayah kedaulatan Afghanistan dalam beberapa dekade terakhir.
Data terbaru menunjukkan bahwa serangan tersebut tidak hanya menargetkan infrastruktur militer, tetapi juga dilaporkan menewaskan lebih dari 130 petempur Taliban. Di sisi lain, Taliban mengklaim telah melakukan serangan balasan yang menewaskan puluhan tentara Pakistan di pos perbatasan.
Analisis Fakta atau Disinformasi
Para pengamat militer memperingatkan agar publik bersikap skeptis. Dalam perang modern, disinformasi mengenai kematian pemimpin musuh sering digunakan sebagai senjata psikologis. Mengingat gaya kepemimpinan Akhundzada yang sangat rahasia, verifikasi independen sangat sulit dilakukan. Namun, tewasnya tokoh penting lain seperti Mullah Neda Mohammad Nadeem (Menteri Pendidikan Tinggi sekaligus menantu Akhundzada) dalam serangan yang sama, menambah bobot pada spekulasi bahwa serangan tersebut memang menyasar inti kepemimpinan Taliban.
