Perang Thailand vs Kamboja Makin Mengerikan, China Turun Tangan

Perang Thailand vs Kamboja Makin Mengerikan, China Turun Tangan

BERITA KERABAT – Ketegangan militer antara Thailand dan Kamboja kini memasuki fase yang semakin serius, dengan laporan terbaru menunjukkan eskalasi tembakan, korban jiwa, dan gelombang besar pengungsian warga sipil dari kawasan perbatasan kedua negara. Situasi tersebut menarik perhatian internasional dan memaksa China turun langsung dalam upaya mediasi dan de‑eskalasi konflik, sebut sumber berita terkini yang dirilis hari ini.

Sejak awal Desember 2025, bentrokan bersenjata kembali pecah di sepanjang perbatasan yang panjang dan kompleks antara Thailand dan Kamboja, terutama di wilayah yang pernah menjadi sengketa sejak lama seperti provinsi Oddar Meanchey, Preah Vihear, dan Ubon Ratchathani di sisi Thailand. Bentrokan ini dilaporkan telah menewaskan puluhan orang, sementara lebih dari setengah juta warga sipil terpaksa meninggalkan rumah mereka demi keselamatan.

Penyebab dan Tanda‑Tanda Eskalasi

Bentrokan terbaru dipicu pada 8 Desember setelah serangkaian skirmish kecil yang berubah menjadi saling tembak antara tentara kedua negara. Thailand melaporkan serangan artileri dan tembakan mortir dari posisi militer Kamboja, sementara Phnom Penh menuduh Thailand melanggar wilayah kedaulatannya dan melanggar gencatan senjata yang sempat berlaku sebelumnya.

Dalam konflik ini, klaim soal penggunaan berbagai jenis sistem senjata canggih juga muncul. Misalnya, tentara Thailand mengklaim berhasil menyita sejumlah rudal anti‑tank buatan China dari pasukan Kamboja. Pemerintah Thailand menegaskan bahwa temuan ini menunjukkan peran suplai senjata asing meskipun tidak menetapkan bukti langsung keterlibatan Beijing dalam pasokan militer baru.

China Turun Gunung Mediasi dan Diplomasi Intensif

Salah satu perkembangan paling mencolok adalah keterlibatan langsung China sebagai mediato­r. Diplomasi Beijing yang semula dinilai relatif tenang kini berubah menjadi langkah‑langkah nyata: utusan khusus China untuk urusan Asia, Deng Xijun, terbang ke Phnom Penh dan mengadakan pembicaraan intensif dengan kedua pihak, mendorong mereka untuk menahan diri dan kembali ke meja perundingan.

Pernyataan resmi dari Kementerian Luar Negeri China menegaskan bahwa Beijing telah “memperhatikan dengan seksama” situasi di perbatasan, mengungkapkan “kesedihan yang mendalam” atas jatuhnya korban, dan menyerukan semua upaya untuk segera menghentikan tembakan serta melindungi warga sipil yang tak berdosa. China menegaskan komitmennya untuk terus menghubungkan pihak Thailand dan Kamboja agar tercapai gencatan senjata yang langgeng.

Upaya mediasi China saat ini berjalan bersamaan dengan beberapa inisiatif internasional lain, termasuk peran ASEAN, pertemuan khusus di Kuala Lumpur yang melibatkan menteri luar negeri negara‑negara ASEAN, dan upaya diplomatik bersama dari Beijing dan Washington untuk memulihkan perdamaian.

Respon Thailand dan Kamboja

Di Bangkok dan Phnom Penh, pejabat dari kedua negara menyatakan keinginan untuk mengakhiri konflik, namun interpretasi mereka terhadap apa yang harus dilakukan selanjutnya sangat berbeda. Thailand menekankan pentingnya bukti konkret atas pelanggaran gencatan senjata, sementara Kamboja meminta agar pembicaraan damai digelar tanpa prasyarat politik. Kondisi ini memperumit negosiasi, bahkan saat tekanan internasional meningkat.

Lebih jauh, konflik ini telah memicu diskusi di tingkat ASEAN tentang perlunya mekanisme pemantauan yang lebih kuat di kawasan, serta kemungkinan peran ASEAN dalam menyelenggarakan pembicaraan damai yang lebih formal dan terstruktur. Malaysia, yang saat ini memimpin ASEAN, menegaskan akan terus mendorong dialog di tengah kekhawatiran bahwa konflik ini bisa berdampak lebih luas terhadap stabilitas kawasan.

Kemanusiaan dan Krisis Pengungsian

Selain dimensi geopolitik dan militer, yang paling mencolok adalah krisis kemanusiaan yang terus berkembang. Ratusan ribu warga sipil dari desa‑desa perbatasan telah melarikan diri ke daerah‑daerah yang lebih aman di bagian dalam negara masing‑masing, meninggalkan rumah, pertanian, dan mata pencaharian mereka demi keselamatan. Situasi ini memperburuk persoalan sosial dan ekonomi di wilayah yang sebelumnya sudah rentan.

Organisasi kemanusiaan internasional kini menyerukan akses tanpa hambatan ke kawasan pengungsian serta dukungan logistik yang lebih besar untuk membantu warga yang kehilangan tempat tinggal, sumber mata pencaharian, dan akses ke layanan dasar seperti kesehatan dan pendidikan.

Apa Artinya Bagi Asia Tenggara?

Kontak diplomatik yang intens antara China, ASEAN, dan negara‑negara besar seperti Amerika Serikat menunjukkan betapa besar dampak konflik bilateral ini dalam konteks geopolitik regional. Sementara Beijing berupaya memposisikan dirinya sebagai mediator yang konstruktif, ketegangan di lapangan tetap tinggi dan risiko pertempuran kembali meningkat jika gencatan senjata tidak segera dipatuhi.

Selain itu, konflik ini menggarisbawahi tantangan yang lebih luas terhadap stabilitas kawasan ASEAN, terutama ketika klaim kedaulatan atas wilayah perbatasan tetap belum menemukan solusi yang tuntas dan permanen.