BERITA KERABAT – Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, membawa angin segar dalam upaya pemulihan pascabencana di Provinsi Aceh. Di tengah upaya pemerintah mempercepat rehabilitasi infrastruktur akibat banjir bandang yang melanda wilayah Sumatera, Kepala Negara mengungkapkan adanya potensi ekonomi tak terduga yang muncul dari sisa-sisa bencana.
Dalam kunjungannya ke lokasi terdampak di Aceh Tamiang pada Kamis, 1 Januari 2026, Presiden Prabowo menyatakan bahwa sejumlah pihak swasta telah menunjukkan ketertarikan serius untuk memanfaatkan endapan lumpur sisa banjir. Langkah ini dinilai sebagai terobosan yang dapat mempercepat pembersihan sekaligus memberikan pemasukan tambahan bagi kas daerah.
Potensi Ekonomi dalam Limbah Bencana
Banjir bandang dan tanah longsor yang terjadi di pengujung tahun 2025 meninggalkan endapan sedimentasi lumpur yang masif di berbagai titik, mulai dari dasar sungai yang mendangkal hingga area persawahan warga. Namun, apa yang sebelumnya dilihat sebagai beban pembersihan, kini dilirik oleh sektor industri.
“Gubernur (Aceh) melaporkan kepada saya, ada pihak-pihak swasta yang tertarik. Mereka bisa memanfaatkan lumpurnya, di mana-mana. Jadi tidak hanya yang ada di sungai, tapi juga di sawah dan sebagainya. Silakan, saya kira ini bagus sekali,” ujar Presiden Prabowo di sela-sela peninjauan hunian sementara (huntara) di Aceh Tamiang.
Presiden menegaskan bahwa pemerintah tidak akan menghalangi jika ada perusahaan yang ingin membeli atau mengelola material lumpur tersebut secara profesional. Bahkan, ia secara spesifik meminta agar proses ini dipermudah agar manfaatnya dapat dirasakan langsung oleh masyarakat setempat melalui Pendapatan Asli Daerah (PAD).
This is a Big Engineering Operation!
Menangani jutaan kubik lumpur yang menyumbat aliran sungai bukanlah perkara mudah. Menanggapi situasi ini, Presiden Prabowo menekankan perlunya kolaborasi berskala besar antara pemerintah, BUMN, dan sektor swasta. Ia menginstruksikan Menteri Pertahanan, Sjafrie Sjamsoeddin, untuk berkoordinasi dengan tenaga ahli engineering dari berbagai institusi.
“Ini adalah operasi teknik yang besar (This is a big engineering operation!). Kita butuh perusahaan-perusahaan besar yang memiliki kemampuan pengerukan (dredging) skala besar untuk pelabuhan dan sungai. Nanti hasilnya juga bermanfaat,” tegas Presiden.
Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin sebelumnya telah mengusulkan rencana normalisasi sungai-sungai di Aceh melalui jalur laut. Strategi ini melibatkan penggunaan kapal pengeruk besar yang masuk dari muara sungai. Tujuannya adalah agar alat berat dapat langsung menjangkau titik-titik pendangkalan terdalam tanpa harus terkendala akses darat yang rusak.
Dampak Positif bagi Daerah
Dorongan Presiden agar lumpur ini “dijual” atau dikelola swasta bukan tanpa alasan. Selain mempercepat normalisasi sungai guna mencegah banjir susulan, skema ini diharapkan dapat membangkitkan semangat para kepala daerah.
“Kalau ada swasta mau beli, ya monggo. Hasilnya silakan langsung dinikmati oleh daerah-daerah. Wah, Gubernur dan Bupati pasti ada semangat kalau tahu begitu,” kata Prabowo dengan nada optimis.
Pakar ekonomi menilai langkah ini sebagai bentuk penerapan ekonomi sirkular dalam manajemen bencana. Lumpur hasil banjir seringkali memiliki kandungan mineral yang tinggi atau dapat diolah menjadi bahan bangunan seperti batu bata, batako, hingga material reklamasi dan pembenah tanah.
Fokus Pemulihan Awal Tahun 2026
Selain membahas potensi pemanfaatan lumpur, kunjungan Presiden Prabowo di awal tahun 2026 ini juga memastikan berfungsinya fasilitas publik. Ia meminta jajarannya untuk memprioritaskan perbaikan sekolah, Puskesmas, dan rumah sakit agar pelayanan masyarakat tidak terganggu.
Hingga saat ini, pemerintah melalui Danantara dan BNPB telah berhasil membangun sekitar 600 unit hunian sementara dalam waktu singkat delapan hari. Presiden memuji kecepatan kerja tim di lapangan sebagai bukti nyata bahwa negara hadir di tengah penderitaan rakyat.
Dengan adanya minat swasta dalam pengelolaan lumpur ini, diharapkan proses pembersihan Aceh dari sisa-sisa bencana dapat berjalan lebih cepat, efisien, dan berkelanjutan, mengubah material sisa musibah menjadi aset pembangunan kembali Serambi Mekkah.
