Risma Dorong Kemandirian Ekonomi Pengungsi Agam Lewat Ternak Ayam

Risma Dorong Kemandirian Ekonomi Pengungsi Agam Lewat Ternak Ayam

BERITA KERABAT – Harapan baru mulai tumbuh di tengah duka masyarakat Kabupaten Agam yang terdampak bencana. Dalam kunjungannya ke posko pengungsian baru-baru ini, Tri Rismaharini hadir tidak hanya membawa bantuan logistik, tetapi juga gagasan konkret untuk memulihkan kemandirian ekonomi warga. Mantan Menteri Sosial tersebut menawarkan program pemberdayaan melalui peternakan ayam petelur dan budidaya lele sebagai solusi jangka pendek dan menengah bagi para pengungsi.

Kunjungan ini dilakukan sebagai bentuk kepedulian berkelanjutan terhadap warga yang kehilangan mata pencaharian akibat bencana banjir lahar dingin Gunung Marapi. Risma yang kini fokus pada aksi-aksi kemanusiaan dan pemberdayaan, menekankan bahwa bantuan makanan siap saji tidaklah cukup untuk masa depan. Warga membutuhkan kesibukan yang produktif sekaligus sumber penghasilan untuk bangkit kembali.

Solusi Ekonomi di Lahan Terbatas

Dalam dialog hangat bersama para pengungsi di tenda-tenda darurat, Risma mendengar keluhan utama warga mengenai ketidakpastian ekonomi. Banyak dari mereka yang sawahnya tertutup material vulkanik atau kehilangan aset ternak saat bencana melanda.

“Saya bantu kayak ternak ayam bertelur, lele bisa ditanam di (boks) styrofoam atau sponge gitu, gimana?” tanya Risma kepada warga yang berkumpul di sekelilingnya.

Awalnya, beberapa warga sempat ragu karena kondisi pengungsian yang sempit dan keterbatasan lahan pascabencana. “Lahannya itu, Bu, kami tidak punya lahan luas lagi sekarang,” keluh salah seorang warga.

Namun, dengan lugas Risma menjelaskan bahwa metode yang ia tawarkan dirancang khusus untuk efisiensi ruang. Beliau memaparkan konsep kandang bertingkat atau sistem vertikal untuk ayam petelur. Dengan sistem ini, ratusan ekor ayam bisa dikelola di area yang sangat minimalis namun tetap menghasilkan telur setiap hari.

“Tidak butuh lahan banyak, Pak. Sekarang ayam bertelur itu bisa dibuat bertingkat. Jadi, setiap hari bisa langsung panen telur untuk dikonsumsi sendiri atau dijual. Kandangnya pun praktis, bisa dipindah-pindah,” jelasnya meyakinkan warga.

Belajar dari Keberhasilan di Semeru

Gagasan ini bukan sekadar teori. Risma mengungkapkan bahwa model pemberdayaan serupa telah sukses diterapkan bagi penyintas erupsi Gunung Semeru di Jawa Timur. Di sana, warga yang tinggal di Hunian Sementara (Huntara) diberikan bantuan paket ternak ayam petelur yang desain kandangnya portabel.

“Warga yang kena bencana itu saya buatkan itu (ternak ayam) seperti di Semeru. Jadi nanti kalau hunian tetapnya sudah jadi, kandangnya tinggal diangkat dan dipindah saja. Tidak ada yang terbuang,” tambahnya.

Risma ingin memastikan bahwa para pengungsi di Agam memiliki ketahanan pangan mandiri. Telur merupakan sumber protein tinggi yang sangat dibutuhkan anak-anak di pengungsian untuk mencegah stunting, sementara kelebihan produksinya dapat dijual ke pasar lokal untuk menambah uang dapur.

Implementasi dan Sinergi Lokal

Untuk merealisasikan rencana ini, Risma bergerak cepat dengan melibatkan jajaran lokal dan relawan untuk mendata warga yang benar-benar berminat dan siap mengelola ternak tersebut. Ia berkomitmen untuk memberikan bantuan mulai dari bibit ayam, pakan awal, hingga pembuatan kandang yang layak.

“Nanti akan dibantu urus implementasinya. Yang penting warga semangat dulu. Lumayan untuk mengisi kesibukan, daripada melamun di tenda, lebih baik produktif,” pungkasnya.

Langkah ini mendapat apresiasi dari tokoh masyarakat setempat. Program ini dinilai lebih berkelanjutan dibandingkan hanya memberikan bantuan uang tunai yang bersifat konsumtif. Budidaya lele di dalam boks dan ayam petelur dianggap cocok dengan budaya agraris masyarakat Agam yang terbiasa mengelola ternak.

Menatap Masa Depan Pasca-Bencana

Upaya pemulihan di Agam memang masih panjang. Selain masalah ekonomi, relokasi warga dari zona merah likuefaksi dan jalur lahar dingin masih menjadi tantangan besar bagi pemerintah daerah. Namun, inisiatif seperti yang ditawarkan Risma memberikan “oksigen” baru bagi mentalitas pengungsi.

Kehadiran sosok pemimpin yang mau turun langsung ke dapur umum dan mengajak warga berdiskusi tentang bisnis skala kecil memberikan dorongan moral yang signifikan. Warga kini mulai melihat bahwa meski bencana merenggut harta benda, kemampuan untuk berusaha kembali tetap ada di tangan mereka sendiri.

Dengan semangat gotong royong dan dukungan teknologi peternakan sederhana, diharapkan Kabupaten Agam bisa segera pulih dan masyarakatnya kembali mandiri secara finansial.