Sirine Sungai Cisadane Meraung: Warga Siaga Menghadapi Ancaman Luapan Air

Sirine Sungai Cisadane Meraung Warga Siaga Menghadapi Ancaman Luapan Air

BERITA KERABAT – Warga Tangerang dan sekitarnya dikejutkan oleh bunyi sirine peringatan dini banjir di Bendung Air 10 Sungai Cisadane. Sirine itu meraung pada siang hari sebagai respon terhadap lonjakan drastis debit air Sungai Cisadane, yang dipicu oleh curah hujan ekstrem di hulu sungai dan wilayah Tangerang. Akibatnya, sejumlah kawasan di Kota Tangerang dan Kabupaten Tangerang dilanda banjir dengan ketinggian bervariasi, memaksa warga untuk waspada dan mempersiapkan kemungkinan evakuasi.

Sirine Peringatan Dinyalakan

Sirine peringatan dini di Bendung Air 10 Sungai Cisadane, yang terletak di Kota Tangerang, dibunyikan sejak pukul 13.00 WIB menyusul kenaikan permukaan air yang signifikan. Kepala Dinas PUPR Kota Tangerang, Taufik Syahzaeni, menjelaskan bahwa pembunyian sirine ini dilakukan karena air di bawah bendung sudah mencapai status siaga satu, meskipun secara resmi status Sungai Cisadane berada di level siaga tiga.

Menurut Taufik, status siaga tiga adalah kewaspadaan tinggi, namun titik di bawah bendung sudah mendekati batas yang berpotensi menyebabkan luapan air. Karena itu, petugas PUPR bersama BPBD (Badan Penanggulangan Bencana Daerah) telah disiagakan penuh untuk memantau dan melakukan antisipasi dini.

Penyebab Kenaikan Debit Air Cisadane

Kondisi ini terjadi akibat hujan intens dan merata yang mengguyur hulu Sungai Cisadane, termasuk kawasan Bogor dan sekitarnya, pada hari-hari sebelumnya. Curah hujan tinggi membuat volume air sungai meningkat cepat, sehingga debit air tidak dapat tertampung sepenuhnya oleh badan sungai.

Dalam beberapa laporan, wilayah yang biasa tidak terendam kini mulai menunjukkan genangan air mencapai 30–80 cm, mengganggu aktivitas warga serta transportasi.

Dampak Banjir di Tangerang

Akibat kondisi ini, beberapa daerah di Tangerang mengalami dampak serius:

1. Genangan di Beberapa Wilayah

Warga di Kecamatan seperti Cibodas, Periuk, Jatiuwung, Karang Tengah, dan Benda melaporkan genangan air yang masuk ke perumahan dan jalan umum. Ketinggian air di beberapa titik dilaporkan mencapai puluhan hingga hampir seratus sentimeter, membuat aktivitas harian warga terganggu.

2. Kawasan Pondok Maharta, Tangsel

Tidak jauh dari Kota Tangerang, di Tangerang Selatan (Tangsel) juga terjadi banjir. Di Perumahan Pondok Maharta, Kecamatan Pondok Aren, sekitar 450 Kepala Keluarga (KK) masih terendam banjir dengan ketinggian mencapai 80 cm, memaksa beberapa warga untuk mengungsi dan menjalani aktivitas serba terbatas.

3. Jayanti Terendam Hingga 4 Meter

Di kawasan Jayanti, Kabupaten Tangerang, luapan air mencapai 4 meter, berdampak pada 2.884 jiwa, dengan beberapa rumah terendam hingga bagian atap. Evakuasi massal dilakukan oleh aparat setempat demi keselamatan warga.

Upaya Penanganan dan Respons Pemerintah

BPBD Kota Tangerang bersama dengan Dinas PUPR, Dinas Sosial, dan dinas lainnya telah menurunkan tim gabungan untuk mengatur aliran air, mengatur pintu air, dan memantau situasi debit sungai secara real-time. Mereka juga siap mengevakuasi warga bila diperlukan.

Kepala BPBD Kota Tangerang, Mahdiar, mengatakan bahwa sirine bukan sekadar bunyi, tetapi merupakan bagian dari sistem peringatan dini yang dirancang untuk menyelamatkan nyawa. Warga diimbau untuk tetap mengikuti informasi resmi pemerintah, waspada terhadap perubahan kondisi, dan melapor segera bila kondisi darurat terjadi.

Namun, laporan terpisah menyebutkan bahwa penanganan banjir masih terkendala minimnya peralatan kebencanaan, seperti perahu dan pompa air yang diperlukan untuk operasional di lapangan. Kondisi ini menjadi tantangan bagi BPBD di tengah meningkatnya jumlah wilayah terdampak.

Reaksi dan Kehidupan Warga

Video sirine yang meraung beredar cepat di media sosial dan grup WhatsApp warga. Banyak yang bereaksi dengan kekhawatiran, doa, dan upaya persiapan evakuasi mandiri. Komentar warga berkisar dari harapan agar air cepat surut, hingga kekhawatiran akan barang-barang milik mereka yang sudah mulai terendam.

Beberapa warga setempat juga terpaksa menunda aktivitas ekonomi dan sekolah, karena genangan air membuat mobilitas menjadi sulit. Jalan utama pada beberapa titik berubah menjadi lautan kecil yang membutuhkan kehati-hatian ekstra.

Catatan dan Imbauan Terakhir

Meski sampai saat ini belum ada laporan resmi mengenai korban jiwa, keadaan ini tetap serius. Pemerintah daerah terus mengimbau warga untuk tetap waspada, memantau perkembangan cuaca, serta segera pindah ke tempat aman bila situasi memburuk.

Warga juga diingatkan agar tidak melewati daerah banjir sendirian, terutama bila arus air semakin kuat, karena bisa membahayakan keselamatan.